Apr 11, 2014

Tujuh Ratus Sembian Puluh Tujuh Kata Buatnya



28 Maret 2014
Malam ini terduduk diantara basah dedaun sisa gerimis sore tadi. Sepi setia temani diri dalam alunan sendu lagu sembari menyelami dalamnya kenangan tentang aku dan dirinya. Dalam alunan sendu itu, aku semakin jauh menelusuk masuk ke dalam memori tentang kita. Semua tentang kita kini hanya sebatas memori. Ya, hanya sebatas memori yang usang, tak bermakna lagi. 

Semakin larut, semakin dalam pula aku tenggelam pada lautan kenangan yang begitu dalam itu. Ya, pada masa-masa yang pernah kita lalui bersama selama enam tahun itu. Tak terasa memang, setiap detik yang terlewati bersama begitu berarti, dan akan terus berarti, setidaknya buat ku. Setiap tawa dan tangis yang ada dan tercipta ketika kita bersama, dulu, akan selalu tersimpan rapi di tempatnya. Ya, memang akan selalu ada pada satu tempat di dalam relung hati ini. Indah, memang indah saat-saat yang pernah kita lalui bersama. Namun, semuanya kini tinggal kenangan; usang, tak bermakna.

Tak dapat ku mengerti apa sebenarnya yang tengah ku rasa. Pada saat mudah baginya untuk melupakan, mengubur, dan melepas semuanya, aku malah sebaliknya. Sulit, bahkan teramat sulit bagiku menghapus semua bayang dan kenangan yang ada. Berbagai cara telah aku lakukan untuk dapat menghapus semuanya; nyatanya sia-sia belaka. Semakin kuat mencoba melepas, semakin nyata pula bayang dan kenangan itu ada.

29 Maret 2014
Hari yang sama, dilewati dengan cara yang sama pula: duduk termenung melepas waktu dengan tatapan kosong. Begitu kehidupan yang ku jalani beberapa waktu ini. Ya, setelah kehilangannya dengan alasan yang tak pernah ku sangka – mencari kebahagiaan dan tempat lain setelah masa sulit yang dilalui bersama. 

Aku seperti ini karena aku bukanlah tipikal seorang pencari yang selalu ingin berlari mencari sesuatu yang diinginkan. Aku adalah seorang yang “hanya memandang ke satu arah dan diam di situ dalam jangka waktu yang lama” (meminjam istilah dari film “5 cm”) begitupun halnya dengan kebahagiaan. Ketika sudah aku rasakan kebahagiaan dan kenyamanan itu, meski dalam rasa sakit yang teramat sakit pun, aku enggan beranjak darinya. Kebahagiaan buatku bukanlah sesuatu yang harus ditinggalkan atau digantikan oleh sesuatu yang baru ketika rasa jenuh dan tak nyaman melanda. Kebahagiaan adalah sesuatu yang harus kita terima dan syukuri terlepas dari segala keadaan yang tengah dihadapi. Ya, menerimanya meski dalam keadaan sakit yang begitu sakit.

Entah, akan seperti apa aku melaluinya. Pasti akan begitu sakit, teramat sakit bahkan untuk dapat melangkah satu langkah ke depan. Ya, apa boleh buat. Ku kira kita masih merasakan hal yang sama. Namun, nyatanya tidak. Aku yang merasakan sakit; dia yang dapat senang dengan kebahagiaan dan tempat barunya. 

30 Maret 2014
Tak pernah ku rasakan sakit yang sesakit ini. Sulit untuk melepas bayang dan kenangan yang selama ini ada dan tercipta. Setiap langkah yang ku buat untuk melupakan segalanya hanya berakhir pada sakit yang begitu perih. Entah, apa dia juga merasakan hal yang sama? Ku rasa tidak. Pada setiap kata yang terucap darinya, ku tafsir dia sudah dapat dengan begitu mudahnya melepas dan melupakan semuanya. Tak apa, yang penting sudah aku berikan semua ketulusan yang memang seharusnya aku berikan, meski pada akhirnya itu jugalah yang tengah membunuhku secara perlahan.

1 April 2014
Kebahagiaan bersamanya kini hanyalah berupa puing-puing kenangan bisu dan setumpuk foto-foto usang yang sudah tak mampu bercerita lagi. Merindukannya sekarang hanyalah berupa angan kosong yang tak akan pernah menjadi nyata. Setiap detik yang terlewati ketika telah tidak bersamanya menjadi saksi untuk rasa sakit yang teramat ini. Raga ku masih bisa disebut sehat – mampu berdiri tegak, berjalan, berlari, atau bahkan melompat. Tapi tidak dengan batinku. Jauh di dalam hati ini, aku menangis, sebenarnya, merasakan sakit yang entah harus dengan apa mengobatinya. Sering aku bertanya “Apakah ini karena ketulusan yang benar-benar aku berikan padanya? Apakah ini sebuah balasan terhadap ketulusan yang telah aku berikan sepenuhnya?”

Memang aku mencintai dan menyayanginya sepenuh hati; jauh dari lubuk hati terdalam telah ku serahkan semua padanya. Namun, tak selamanya rasa yang aku berikan ditanggapi dengan cara yang sama pula. Buktinya, ya seperti inilah. Rasa sayang dan cinta yang sepenuh hati diberikan pada akhirnya disalahartikan. Padahal, bukan tanpa alasan yang jelas aku bertindak dan bertutur. Tapi, ya sudahlah. Nasi sudah menjadi bubur, begitu kata pepatah lama. Makan saja, toh semangkuk bubur pun masih bernutrisi meski tak sebanyak nutrisi yang ada dalam sepiring nasi. 

Jauh dari dalam hati ini aku bertanya “Apakah masih ada aku di dalam hatinya seperti apa yang selalu aku rasakan? Apakah dia sudah benar-benar mengubur apa yang selama ini kita impikan?” Entahlah, hanya dia dan Tuhan yang tau jawabnya. Aku hanya tak ingin larut dalam harap yang tak bersambut. Jiwaku sakit, batinku tersiksa, namun apa daya jika memang harap itu sudah tak bersambut. Mungkin, aku memang sudah benar-benar tergantikan oleh sesuatu yang baru yang jauh lebih mampu membahagiakannya. Namun, tetap aku berharap pada petunjuk-Nya yang pada akhirnya benar-benar dapat membuatku sadar akan arti semua ini.

Oct 18, 2013

Kepada-Nya

Tuhan, jika Engkau berkenan, izinkan aku untuk kembali merasakan bahagia itu. Izinkan untuk kembali mersakan indahnya seperti kala itu. Beri aku kesempatan untuk bisa mendapatkannya, sebelum pada akhirnya Kau ambil semua itu selamanya.

Kebahagiaan yang sederhana --- aku dan dia. Seperti sedia kala, kami merajut kasih yang seharusnya --- kasih yang suci itu.

Tuhan, apakah masih bisa aku dapatkan kebahagiaan itu? Aku hanya seorang insan yang tak miliki kuasa untuk merubah kehendak-Mu. Aku berserah pada-Mu. Hanya itu yang bisa seorang makhluk lakukan --- berserah dan berharap pada Khaliknya.

Tuhan, jika esok masih kau beri nikmat menghirup nafas, izinkan aku hanya untuk bisa merasa bahagia itu. Hanya itu harapku saat ini. Aku ingin kembali pada masa-masa itu, ketika bahagia senantiasa menaungi kami.

Tuhan, jika memang aku sudah tidak berhak atas bahagia itu, ambil semua yang tersisa. Ambilah, jangan yang ada yang tertinggal. Sekuat mungkin aku akan menerimanya. Itu kehendak-Mu.

Tuhan, aku hanya ingin merasakan kembali bahagia itu. Kebahagiaan saat kami menyelami dalam kehidupan dengan saling menutupi semua kekurangan yang ada. Kebahagiaan yang sederhana --- aku dan dia. Izinkan aku untuk merasakan kembali, meski hanya sekejap, sebelum pada akhirnya Kau menutup mata ini pun segala kenangan yang ada antara aku dan dia.

Aug 24, 2013

Gamang

Beberapa hari ini, meski sekilas sama, tapi terasa begitu berbeda, jauh berbeda seperti pada bulan sebelum dua purnama lalu. Entah apa yang terjadi. Kesibukan menulis laporan penelitian (baca: skripsi) aku lakukan seperti biasanya, namun tidak ada gairah dalam menuangkan ide dalam rentetean kata pada monitor, pun dengan nas tulisan yang ku buat. Entah apa yang terjadi. Nyawaku seakan hilang. Untuk sekedar membaca buku, jurnal, dan karya ilmiah yang menggoda dan menggairahkan itu saja, diri tak bernafsu; apalagi untuk menulis. Entah apa yang terjadi. Dalam benak ku berkecamuk dia, keluarga, dan tumpukan-tumpukan bacaan yang harus segera diselesaikan. Padahal tenggang waktu sudah semakin dekat di hadapan pelupuk mata. Entah apa yang terjadi.

Aku hanya ingin kembali sediakala, seperti pada bulan sebelum dua purnama lalu, di mana hasrat, inspirasi, dan ide menari, bergolak, menggerayangi diri, meningkatkan gairah bergelut dengan kata. Namun, tampaknya itu sulit untuk terulang lagi. Aku butuh ketenangan; namun di mana? Yang aku tahu ketenangan hakiki hanya ada di tempat-Nya. Haruskah aku ke tempat-Nya guna meraih ketenangan itu?

Dua-per-tiga malam telah lama aku tinggalkan. Padahal dulu di waktu tersebut aku bisa sedikit merasakan ketenangan untuk melampiaskan hasrat menulis ku. Sekarang, sulit tampaknya untuk terulang lagi. Semuanya berubah sejak dua purnama lalu. Entah harus bagaimana. Jiwa ini seakan hilang arah, lebih parah lagi, hilang jiwa.

Duduk dalam pandangan kosong menjadi sebuah keseharian, akhir-akhir ini. Apakah ini tanda agar aku kembali ke tempat-Nya? Padahal masih banyak impian dan tujuan yang harus direalisasikan. Apakah semuanya bisa terwujud dalam keadaan seperti ini? Seratus persen, bahkan seribu persen aku yakin tidak akan terwujud jika terus seperti ini.

Aku hanya ingin jiwaku kembali seperti pada bulan sebelum dua purnama lalu.

Dalam ketiadaan,

23 Agustus 2013 21.00 

Jul 3, 2013

Hilang

Di antara gelap dan sunyi-sunyi ini
Ku rebahkan diri dalam relung ketidakpastian
Sunyi terus mengisi membisiki diri
tentang sebuah angan yang berserakan tak karuan

Aku hilang jiwa
Aku hilang arah
Aku hilang kamu
Aku hilang Dia

Ke mana melangkah, aku tak tahu
Ke mana mengadu, apa Dia mau tahu
Ke mana bersandar, hanya ada ruang-ruang semu yang tak tentu

Jiwa berteman sunyi yang kian merasuk, berjejalan tak karuan
Bak tiada ruh yang isi raga ini
Untuk meratap, menangis pun hati enggan
Itulah diri saat ini terjejal sunyi

Aku butuh tangis, tapi batin tak bersambut.

May 1, 2013

Mempertanyakan Perjalanan

Esensi yang ada dalam sebuah perjalanan ini tidak sesingkat seperti yang banyak orang katakan --- menghela napas, melakukan metabolisme rutin, dan berlarian mencari kepingan rupiah yang kelak ditimbun menjadi indikator sebuah kesuksesan perjalanan. Bukan, bukan timbunan kepingan rupiah yang jadi satu-satunya indikator kesuksesan sebuah perjalanan ini. Tapi, nyatanya, itulah yang banyak orang inginkan, dan memang benar kepingan itu pula yang mampu membuat perjalanan ini menjadi mulus. Tak ayal, kemanapun melangkah, kepingan itu menjadi sorotan utama setiap pelaku perjalanan. Lalu apakah dengan kepingan itu pula kita mendapatkan sebuah 'tanda penting' di mata para pelaku perjalanan lainnya? Sebegitu hebatkah?

Mungkin, sebagian mereka lupa esensi perjalanan yang tengah dijalaninya. Selain hanya menimbun kepingan tersebut, perjalanan kita haruslah memiliki nilai guna bagi pelaku perjalanan lainnya yang mungkin tidak bisa ditukar dengan kepingan yang kita miliki. Memiliki nilai guna, contonya, bukan hanya memberikan kepingan kita untuk kepentingan komunitas atau kelompok pelaku perjalanan saja tanpa melakukan tindakan nyata di dalamnya. Sama saja bohong jika hanya menyumbang keping-demi-keping berapapun banyaknya, karena kepingan tidak dapat menggantikan tindakan nyata yang kita lakukan. Sulit mungkin untuk merealisasikannya, tapi dengan adanya kesadaran dan kemauan dari dalam diri, hal sesulit apapun pasti bisa dilakukan. Berpartisipasi aktif dalam konstruksi kebaikan pastinya memiliki banyak dampak positif bagi kelangsungan perjalanan kita. Di samping membangun solidaritas dan hubungan sosial yang harmonis, dan mempertegas arti dari sebuah perjalanan, sisi religius kita - salah satu aspek penting dalam perjalanan - juga akan bertambah baik. Bukankah Ia menjadikan kita untuk bisa berguna dalam segi kebaikan? Dari sinilah, mungkin, perjalanan paripurna kepada-Nya akan bisa kita rasakan. 

Jika semua pelaku perjalanan bersaing untuk menimbun banyak kepingan saja, apakah itu bisa disebut paripurna? Nyatanya, persaingan menimbun itulah yang menjadikan banyak perpecahan diantara pelaku perjalanan, bahkan banyak yang melegalkan segala cara, sampai yang paling ekstrim sekalipun, guna memenangi persaingan tersebut, bukan begitu? Jika seperti ini, sama saja mereka dengan predator-predator di alam liar sana (instingnya). Bukankah kita adalah utusan yang harus membuat tempat di mana kita berjalan ini damai, tentram, dan indah? Bukankah Ia juga telah meyakinkan malaikat-malaikat-Nya ketika mereka meragukan fungsi kita diciptakan di sini? Jadi untuk apa kita dibekali akal budi jika insting kita tetap seperti predator alam liar?


Sep 24, 2012

A Little Scavenger

A little scavenger is taking a rest after a hard, tiring day. What a difficult life!

Jul 18, 2012

Sebuah Akhir

Dalam sepi ini, batinku bergemuruh riuh
Ingin rasanya keluar dari keseharian ini
Meski sadar; nyatanya aku gila
Meski lelap; nyatanya aku terjaga

Ingin ku lepas semua keluh yang ada
di sana, di puncak Mahameru
ditemani dinginnya dingin yang membeku
dan sepinya sepi yang kian suram

Mungkin, di saat kelam, kau tak kan temukan
aku, diriku, juga bayang ku dalam rangkulan mu lagi
Aku ingin sepi pun kelam temani ku
dalam perjalanan menuju akhir peraduaan ku

Pada-Nya aku ingin serahkan
semua yang ada dan tiada
yang hitam pun putih
biar aku yang kotor ini
bisa tenang meski api yang berapi-api t'lah menanti

Mungkin, di saat kelam kau tak kan temukan
aku, diriku, juga bayang ku dalam rangkulan mu lagi
Mungkin, di saat itu juga kau akan berkata
"Pergilah dengan tenang. Aku, cintaku, 'kan selalu ada diantara sepinya hati ini".

18 Juli 2012

Jul 8, 2012

Fatamorgana

Terbangun dari mimpi kemudian terhempas ke dalam
sebuah dunia yang benar begitu terang, fantastis buatku.
Sejenak di dalam keheningan kelam, aku lihat kilauan cahaya
berbaris rapi bejajar jauh tepat di depan hamparan ciptaan-Nya.

Tak ku gubris sepi yang semakin menyepi
memaksa diri untuk larut dalam sepi yang tersepi
Ku abaikan hembusan dingin udara yang menerjang;
Malah ku biarkan dingin itu membelai, supaya aku
dan dunia ku bisa semakin satu dan padu.

Di antara kilauan cahaya itu, kulihat seberkas cahaya yang sangat terang,
indah, yang sanggup membuat mata ini bisu, mulut ini tuli, dan telinga ini buta.
Inikah cahaya itu --- dialah dia yang selama ini ada dan aku harap?
Inikah jiwa itu --- adalah sebuah rasa yang mampu membuat raga itu utuh?
Inikah?

Dalam diam ku berkata "Tuhan, inikah yang kau sebut dengan fatamorgana?"

Jul 6, 2012

Sedikit Renungan

Source: http://techjost.com/
Cinta... Satu kata yang mungkin definisi absolutnya susah untuk dicari. Cinta bukanlah apa yang terlihat secara fisik, melainkan sesuatu yang bisa dirasakan oleh batin manusia. Setiap insan pasti memiliki definisinya masing-masing --- berbeda antara satu dengan lainnya. Karena itu pula lah banyak orang bertengkar memperdebatkan egonya tentang cinta itu. Sering kali, benci muncul akibat dari perdebatan itu. Padahal, cinta itu esensinya bukan untuk menghadirkan benci kepada sesamanya, melainkan untuk memberikan rasa damai, nyaman, tentram, dan bahagia pada orang yang merasakannnya. 

Cinta itu suci pada dasarnya, namun di tangan insan yang tidak bisa memaknai cinta itu dengan sepenuhnya, hal ini akan menjadi buruk, bahkan menjadi sebuah bencana yang bisa menghancurkan hidup mereka yang merasakannya. Cinta bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan permainan yang bisa dimainkan dan ditinggalkan seenaknya. Cinta ialah anugerah yang harus disyukuri dengan sepenuh hati, karena cinta yang sebenarnya itu Tuhan berikan kepada mereka yang mampu memegang amanat atas anugerah ini. Mereka yang mampu memegang amanat ini bisa membuktikannya dengan segala yang mereka bisa lakukan, bukannya dengan omongan dan gombalan semata. Sekali lagi, cinta itu sesuatu yang dirasakan oleh batin manusia dan membutuhkan sebuah bukti nyata sebagai realisasinya, bukan dengan omongan dan gombalan semata. Lebih jauh lagi, mereka yang terpilih bisa menjaga dirinya juga cintanya ketika orang yang dicintainya jauh dari dekapannya. Meski kadang rasa gundah serta luapan emosi menghampiri, mereka bisa menjaga anugerah itu sepenuh hati. Toh, bukan hanya kehadiran orang yang dicintainya saja yang bisa membuatnya bahagia, jika memang seseorang menjaganya dengan baik, meski jauh, rasa yang telah tertanam dalam hatinya yang terdalam itu bisa meredakan luapan emosi yang kadang membara dan merusak cinta yang ada itu.

Jun 25, 2012

Maafkan Aku Pak

Usianya sudah mulai senja. Tidak muda dan sekuat dulu lagi memang. Apalagi, sekarang sakit mulai mendera badannya yang kian renta itu. Karena itulah, badannya yang dulu tegap dan kuat, kini mulai kurus dan terkulai lesu. Raut mukanya yang dulu segar, kini dihiasi oleh banyak garis-garis penanda ia sudah tua. Rambutnya yang dulu tebal, sekarang sudah mulai menipis -- berguguran seiring usianya yang sudah tidak muda lagi.

Pak, begitu sapaannya, kau memang sudah tidak sekuat dan sesehat dulu lagi. Harusnya, sudah waktunya untukmu beristirahat dan melihat tunas-tunas yang kau didik dan besarkan dengan keringat dan air mata membahagiakan mu, bukan malah tetap bekerja memeras keringat dan tenaga, bahkan merelakan batin mu tersisksa oleh pekerjaan yang kau geluti itu. Sangat disayangkan, waktu istirahat mu mungkin masih menjadi impian belaka. Nyatanya, tunas-tunas yang kau didik dengan cinta dan kasih yang tulus ikhlas itu belum bisa berbuat banyak untuk membahagiakan dan membalas jasa yang begitu besar telah kau berikan. Tunas-tunas mu masih saja kerap merepotkan dengan berbagai masalahnya, termasuk juga aku. Hal ini tentu saja, secara tidak langsung, memaksa mu untuk tetap bergelut dengan sesuatu yang sering kali menyiksa batin mu -- pekerjaan mu -- sehingga raut derita kerap terlihat dari wajah mu yang lelah itu.

Aku, sebagai tunas yang tertua, harusnya sudah mulai bisa membantu mu meringankan beban yang ada. Namun, aku merasa malu karena belum bisa memberikan apa-apa yang seharusnya aku berikan untuk membantu mu. Aku masih merengek dan meminta seperti halnya anak kecil. Padahal aku sadari hal itu tidaklah pantas lagi, sangat tidak pantas ku lakukan. Sebaliknya, aku yang mestinya bisa memberi sesuatu untuk mu supaya kau tidak perlu bersusah payah memeras tenaga dan pikiran untuk menghidupi kami. Jika dipikir aku ini balita dengan fisik dewasa, melihat kenyataan yang ada sekarang ini.

Aku juga bahkan terlalu egois akan keinginan dan cita-cita. Di saat dia mulai didera sakit, aku justru berkeinginan untuk meninggalkannya dengan berharap agar bisa mendapatkan beasiswa studi di luar negeri. Awalnya, dengan berharap bisa mendapatkan beasiswa semacam itu, aku bisa membantu memberikan apa yang seharusnya aku beri. Namun, setelah berpikir lebih jauh, akhirnya aku sadari bahwa hal itu adalah sebuah tindakan tolol. Aku lebih mementingkan ego diri sendiri, padahal ada yang lebih penting dan membutuhkan dari pada harapan ku itu, ialah keluarga dan orang-orang yang tulus mencintaiku yang telah membuat aku bisa berdiri seperti sekarang ini. Logikanya, aku tidaklah mungkin menjadi aku yang seperti ini tanpa mereka, namun dengan mudah aku ingin meninggalkan mereka demi satu keinginan itu. Egois kan?

Seiring dengan disibukkannya aku dengan tugas dan kegiatan kuliah, mereka -- keluargaku -- sering kali terlupakan. Menghubunginya saja jarang, mungkin satu atau dua kali sehari, itu pun hanya lewat SMS saja. Dari sinilah aku sadari bahwa aku terlalu larut dalam duniaku sendiri. Tak ku sadari bahwa ada mereka yang juga membutuhkan ku.

Pak, maafkan aku yang masih saja merepotkan mu dengan segala masalah ku.


Apr 20, 2012

Elegi

Masihkah kau ingat ketika kita bersama di bawah pelangi?
Ketika kita memandangi setiap jengkal warnanya yang indah

Memang indah kala itu, ya?
Bersama kita berlari mengejar ombak yang berlari beriringan
Meraih hari di bawah jingga yang mulai menghitam
Sungguh indah, kan?

Bersama kita tertawa
Bersama kita terluka

Indah, bukan?

Ya memang indah kala itu,
Sampai aku sadari bahwa
semuanya itu semu dan palsu.

Awalnya, setiap kali ku kenang serpihan kenangan bersamanya
Aku berharap dia juga merasakan hal yang sama -- kangen.
Begitu seterusnya sampai aku sadari bahwa
Aku ini bodoh.

Aku terlalu larut dalam fatamorgana bayangannya
Aku, harap ku, tak kan pernah bertemu pada sebuah titik temu yang indah
semuanya semu, palsu, hanya angan semata.
Aku bukanlah apa yang dia rasakan lagi

Sungguh indah kala itu, kan?
Ketika kita bersama di bawah pelangi yang perlahan menjadi semu.

Mar 30, 2012

Chapter Report: Teaching Reading


 There are many reasons why getting students to read English texts are one of the teachers’ responsibilities: for future careers, study purposes, and pleasure (Harmer, 2001a p. 68).  Besides, Harmer (2001a p.68) also claims that providing an interesting and engaging reading activity also influences the success of language acquisition. Therefore in classroom activity teachers should be able to provide the reading activity which is suitable with students’ proficiency-level by choosing the appropriate topics and stimulating students to do further learning experiences, such as: conducting a group discussion or making a response based on the text explained.

The teaching reading which emphasizes only on the vocabulary and the generic structure will not enhance students’ understanding of the message conveying in the text. As we know, texts mainly deal with meaning, the message which the authors want to deliver to the readers. If teaching reading mainly focus on the grammatical rules or the structures of the text itself, how could the students identify what message conveyed in the texts? It is, probably, one of many aspects that make teaching reading somewhat difficult.

For many EFL (English as Foreign Language) students, reading is difficult to be mastered since there are many words, especially the new ones, which cannot be understand easily. Besides, they are also mainly bounded to the teaching of structure, generic structure of the text. This problem leads to distract the acquisition of understanding of the text itself.

This chapter report will highlight some basic concepts in teaching reading, such as: process in reading and the types of reading along with their brief description. Besides, it will also summarize and comment on the teaching reading demonstration conducted a few weeks ago by Ibu Ika.

Process in Reading

There are two processes that are recognized in reading: bottom-up process and top-down-process. In bottom-up process, readers must first recognize a multiplicity of linguistic signals (letters, morphemes, syllables, words, phrases, grammatical cues, discourse markers) and use their linguistic data-processing mechanisms to impose some sort of order on these signals. Meanwhile, top-down process deals with the understanding of texts based on readers’ own intelligence and experience (Brown, 2001 p. 298).

Types of Reading

            Beside two processes mentioned above, reading is also divided into two types: extensive reading and intensive reading. Extensive reading is carried out to achieve a general understanding of a usually somewhat longer text. It is usually performed outside of class time, for example in reading for pleasure. Meanwhile, intensive reading is usually a classroom- oriented focusing on the linguistic features of the text (Brown, 2001 p. 312-313). Basically, those reading categories cover two most important skills in reading: skimming and scanning. Skimming is a way to get a general idea of what the text is about (reading for the gist). Meanwhile scanning has something to do with the reading for detailed comprehension (specific information) (Brown, 2001; Harmer, 2001a p. 69; Harmer, 2001b p. 283).


Summary and Comment on Teaching Demonstration

            Teaching demonstration presented by Ibu Ika generally follow the principles in interactive reading: the task matches to the topic, the activity stimulate students to learn, include both bottom-up and top-down processing, and divide the activity into some phases (Brown, 2001 p.313-316; Harmer, 2001a p. 70).

In this teaching demonstration, teacher sequenced the reading activity into pre-reading, during-reading, and after-reading phases. Through the sequencing of activity, students will be helped to get better understanding of the texts. Although the series of activity may not fit all contexts, it serves a general guide for reading class at least (Brown, 2001 p. 315).

In the pre-reading activity, teacher stimulated students to predict what the text is about by giving a game containing the words (clues) which will be used in the text later on. Teacher used the whiteboard to make a semantic mapping or clustering of the text based on the clues given. The strategy of semantic mapping or grouping ideas into meaningful clusters helps the readers to provide some order of the chaos (Brown 2001, p. 308). In my opinion, by giving the students some inputs related to the text that will be learnt provide many advantages, such as: reducing the ‘shock’ that will be faced by students while reading a text because their lack of vocabularies, providing a general visualization of the text, etc. After getting the clues, teacher asked them to discuss in group what the text is going about (prediction). It is important since prediction is major factor in reading – people usually have a good idea of the content before actually read (Harmer, 2001a p. 70).

During the main activity, teacher gave the students an incomplete narrative text and asked them to read it carefully. After that, students are asked to compare their prediction to the text given. I personally believe that this main activity is engaging since teacher provide different technique to learn reading. In line with this, Harmer (2001 p. 70) noted that when students are stimulated with the topic or the task, they get much more from what is being learnt. In traditional technique, mainly students will focus on the linguistic features of the text, however, in this activity they are treated differently; making a prediction and comparing it to the real text.

Since the text is not a complete text, in post-reading activity teacher focused their lesson on how to respond to it: continuing the text using their understanding got from pre- and main-activity. Actually, in this activity students needed to predict the rest of the text. I think with the understanding and vocabulary received from previous activities, students will be easier to do it. The way students predict (response) indicates that they have got the point or message of the text. Thus it provokes their personal engagement of the text and language (Harmer, 2001 p. 70).

Overall, the teaching demonstration has successfully engaged students in reading activity through the variety of activities provided. Those activities help the students to get understanding of the text step-by-step (scaffolding). Besides, the activities also give the students a chance to think and respond to the text: they are first provided by the useful inputs in pre-reading activities which will be useful to respond to the text (continuing the rest of the text). Moreover, the interactive strategy applied by teacher during the whole lesson is the most important part in teaching reading. Through the application of interactive strategy, students will be more engaging so that it will also increase students’ involvement during the lesson.


Mar 25, 2012

Menyikapi Hidup

Hidup ini penuh teka-teki, rumit, sulit ditebak.
Kata siapa hidup ini indah?
Mungkin untuk mereka yang tak pernah dari bawah merangkak naik tercekik,
Memang iya hidup ini indah.

Satu hal yang pasti dari hidup ini -- baik dan buruk.
Namun, mereka tidak lah absolut, mutlak, kekal.
Baik menjadi buruk, begitu pun sebaliknya.
Seperti halnya saya, Anda, juga mereka -- manusia.

Lalu?
Harus bagaimana menyikapinya?

Hanya Tuhan, waktu, dan nurani Anda
yang bisa menjawabnya...

Mar 21, 2012

Pemerataan Pendidikan: Antara Harapan dan Realita

Posisi Indonesia menurut Human Development Index (Indeks Perkembangan Manusia) yang dirilis oleh UNDP tahun 2010 berada di angka 108. Posisi ini tidaklah terlalu jelek mengingat Indonesia masih mampu bersaing dengan negara-negara berkembang lainnya.  Berdasarkan posisi tersebut, Indonesia termasuk kedalam golongan medium human development. Hal ini terjadi karena pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan dalam bidang pendidikan, yakni mewajibkan setiap warga negara Indonesia untuk mendapatkan pendidikan dasar selama sembilan tahun (enam tahun di sekolah dasar dan tiga tahun di sekolah menengah pertama). Melalui kebijakan tersebut, pemerintah berupaya untuk mempersiapkan manusia Indonesia yang terdidik guna menghadapi perubahan global di dunia.
Namun dalam pelaksanaannya, kebijakan yang mewajibkan warga negara Indonesia untuk mengenyam pendidikan dasar bukanlah tanpa masalah, salah satu masalah yang dihadapi ialah pemerataan pendidikan. 
Masih banyak saudara-saudara kita yang belum bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Mereka yang tinggal di pelosok-pelosok negeri ini hanya, mungkin, mendapatkan sedikit saja pelayanan pendidikan dari yang sebagian besar kita dapatkan selama ini. Fasilitas pendidikan yang ada di sekolah-sekolah mereka, seperti; ruang kelas; perpustakaan; dan sebagainya; kualifikasi guru-guru yang mengajar, serta sumber-sumber belajar pun pastilah sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan sekolah-sekolah yang ada di benak kita pada umumnya. Akibatnya, masih banyak generasi pembangun bangsa ini yang masih buta terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini diperburuk oleh mind set mereka yang berpikir bahwa hidup ini esensinya adalah untuk bekerja -- mencari uang. Jadi menurut mind set yang dipegang, mereka tidak membutuhkan tingkat pendidikan yang tinggi untuk menjadi seorang pekerja. Di samping itu, keadaan ekonomi mereka pun masih menjadi ganjalan dalam proses pendidikan. Hal itu wajar karena untuk membiayai kebutuhan dapur saja sudah susah, apalagi untuk membiayai pendidikan.
Pada dasarnya, tujuan pendidikan ialah untuk mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) yang bermutu. Dengan sumber daya manusia yang bermutu tersebut akan memajukan daya saing bangsa Indonesia pada berbagai aspek penting, seperti: ekonomi, industri, teknologi, ilmu pengetahuan, dan lain-lain. Di samping itu, pendidikan juga merupakan batu loncatan pertama untuk memajukan sebuah bangsa di era globalisasi ini. Melalui sebuah sistem pendidikan yang baik dan diatur serta diawasi secara menyeluruh tanpa membedakan kelebihan dan kekurangan yang ada pada setiap daerah, akan tercipta manusia Indonesia yang terdidik serta memiliki kemampuan yang baik dalam berdaptasi dengan perkembangan zaman.
Dalam UUD 1945 Pasal 31 tentang pendidikan dinyatakan bahwa setiap warga Negara Indonesia berhak untuk mendapatkan pendidikan dan pemerintah wajib membiayainya. Pertanyaannya, "Pendidikan seperti apakah yang harus diterima oleh warga negara Indonesia?" "Apakah pendidikan di Indonesia sudah bisa dikatakan layak?" kemudian“Seberapa layak kah pendidikan yang layak itu?” Apakah dengan bangunan sekolah, ruang kelas yang memadai ditambah dengan fasilitas dan sumber-sumber belajar yang relevan serta guru-guru yang berkualifikasi baik itu bisa disebut layak? Jika memang pendidikan yang layak itu seperti yang disebutkan di atas, maka hanya mereka yang bersekolah di tempat yang memiliki karakteristik seperti di atas yang bisa dikatakan mendapatkan pendidikan yang layak. Lalu bagaimana dengan saudara-saudara kita yang bersekolah dengan fasilitas seadanya serta dengan segala keterbatasan yang ada di sekolahnya? Apakah masih bisa kita katakan mereka juga mendapatkan pendidikan yang layak?
Pemerintah seharusnya bisa mengupayakan dan memberikan yang terbaik untuk semua warga negaranya di mana pun, termasuk dalam bidang pendidikan, karena dengan pemerataan pendidikan yang menyeluruh di Indonesia, maka salah satu cita-cita luhur bangsa ini yang dituangkan dalam pembukaan Undang Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 yakni “mencerdaskan kehidupan bangsa” akan bisa tercapai dengan baik.
Meski pemerintah sudah menerapkan sebuah program Bantuan Operasional Sekolah, atau yang lebih dikenal dengan BOS, untuk meringankan beban biaya pendidikan saudara-sudara kita, tetap masih banyak saudara-saudara kita yang belum mendapatkan pelayanan pendidikan yang layak. Dengan pengadaan sumber belajar seperti buku-buku, bantuan biaya pendidikan, dan sebagainya, BOS sebenarnya sangat membantu saudara-saudara kita untuk, setidaknya, mendapatkan pengetahuan yang lebih baik. Namun, faktanya tidak demikian. Masih banyak yang belum bisa bersekolah dengan layak sebagaimana halnya kita. Untuk menanggulangi hal ini, sebaiknya bukan hanya pemerintah yang bekerja untuk memecahkan masalah ini. Kita sebagai civitas akademika dan agent of change yang mungkin sedikit lebih tahu mengenai hal tersebut juga harus bisa memberikan kontribusi nyata terhadap masalah pemerataan pendidikan.
Sebagai contoh, kita pun bisa memberikan, setidaknya penyuluhan, kepada masyarakat di sekitar mengenai pentingnya mengenyam pendidikan. Dengan penyuluhan tersebut masyarakat akan bisa merubah mind set mereka bahwa untuk menjadi seorang pekerja tidak membutuhkan pendidikan yang tinggi. Namun, dengan bekal pendidikan yang cukup, meski pada akhirnya mereka juga memutuskan untuk menjadi seorang pekerja, setidaknya pekerja yang memiliki background pendidikan yang baik akan berbeda dengan mereka yang tidak. Kenyataannya, skilled labour (pekerja yang terdidik dan terlatih) memiliki kreativitas dan visi yang lebih baik dari mereka yang tidak memiliki background  pendidikan yang cukup. Dengan demikian, usaha menyadarkan masyarakat akan pentingnya pendidikan akan berpengaruh terhadap partisipasi mereka dalam pendidikan. Diharapkan angka manusia Indonesia yang tidak mengenyam pendidikan dasar  akan berkurang.
Dengan pemerataan pendidikan yang baik akan tercipta manusia Indonesia, baik di kota maupun di pelosok, yang berbekal pengetahuan yang cukup guna bersaing di era globalisasi ini. Di samping itu, pemerataan pendidikan pun juga memberikan kesempatan masyarakat pelosok untuk berkembang dan maju sejajar dengan mereka yang berada di kota. Dengan demikian tujuan negara "mencerdaskan kehidupan bangsa" yang tercetus dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 akan tercapai dengan baik pula. Pada akhirnya, dengan adanya SDM yang bermutu, bangsa ini akan lebih kompetitif dalam menghadapi perubahan-perubahan yang terjadi di dunia.

Ratings and Recommendations by outbrain